Buruan daftarkan diri anda dan menangkan jacpot jutaan rupiah..
situs judi yang terpercaya dalam keuangan berapapun
anda menang dan tidak ada batas penarikan dan deposit setiap
hari 24 jam
Rasakan sensasi promo yang tiada duanya di
www.pkr224.com
Untuk Daftar Silakan Klik Link Di Bawah !
situs judi yang terpercaya dalam keuangan berapapun
anda menang dan tidak ada batas penarikan dan deposit setiap
hari 24 jam
Rasakan sensasi promo yang tiada duanya di
www.pkr224.com
Untuk Daftar Silakan Klik Link Di Bawah !
Raih Semua Promo-promo menarik poker224.com
- Bonus Rollingan/Cashback 0,5% ( Setiap Senin ) -
- Bonus Referral 20% ( SEUMUR HIDUP ) -
HUBUNGI KAMI :
LIVECHAT : www.pkr224.com
YM : poker_224@yahoo.com
SKYPE : poker.224
BBM : 563B7468whatsapp : 085361245308
Salam kami WWW.pkr224.com
- Bonus Rollingan/Cashback 0,5% ( Setiap Senin ) -
- Bonus Referral 20% ( SEUMUR HIDUP ) -
HUBUNGI KAMI :
LIVECHAT : www.pkr224.com
YM : poker_224@yahoo.com
SKYPE : poker.224
BBM : 563B7468whatsapp : 085361245308
Salam kami WWW.pkr224.com
Namaku Lani,
seorang ibu rumah tangga,
umurku 36 tahun. Suamiku namanya Prasojo, umur 44 tahun, seorang pegawai
di pemerintahan di Bantul. Aku bahagia dengan suami dan kedua anakku.
Suamiku seorang laki-laki yang gagah dan bertubuh besar, biasalah dulu
dia seorang tentara. Penampilanku walaupun sudah terbilang berumur tapi
sangat terawat, karena aku rajin ke salon dan fitnes dan yoga. Kata
orang, aku mirip seperti Sandy Harun.
seorang ibu rumah tangga,
umurku 36 tahun. Suamiku namanya Prasojo, umur 44 tahun, seorang pegawai
di pemerintahan di Bantul. Aku bahagia dengan suami dan kedua anakku.
Suamiku seorang laki-laki yang gagah dan bertubuh besar, biasalah dulu
dia seorang tentara. Penampilanku walaupun sudah terbilang berumur tapi
sangat terawat, karena aku rajin ke salon dan fitnes dan yoga. Kata
orang, aku mirip seperti Sandy Harun.
Tubuhku masih bisa dikatakan langsing,
walaupun payudaraku termasuk besar, karena sudah punya anak dua. Anakku
yang pertama bernama Rika, seorang gadis remaja yang beranjak dewasa.
Dia sudah mau lulus SMA, yang kedua Sangga,masih sekolah SMA kelas 1.
Rika walaupun tinggal serumah dengan kami juga lebih sering menghabiskan
waktunya di tempat kosnya di kawasan Gejayan.
Kalau si Sangga, karena cowok remaja,
lebih sering berkumpul dengan teman-temannya ataupun sibuk berkegiatan
di sekolahnya. Semenjak tidak lagi sibuk mengurusi anak-anak, kehidupan
seksku semakin tua justru semakin menjadi-jadi. Apalagi suamiku selain
bertubuh kekar, juga orang yang sangat terbuka soal urusan seks.
Akhir-akhir ini, setelah anak-anak besar, kami berlangganan internet.
di sekolahnya. Semenjak tidak lagi sibuk mengurusi anak-anak, kehidupan
seksku semakin tua justru semakin menjadi-jadi. Apalagi suamiku selain
bertubuh kekar, juga orang yang sangat terbuka soal urusan seks.
Akhir-akhir ini, setelah anak-anak besar, kami berlangganan internet.
| Aku dan suamiku sering browsing masalah-masalah seks, baik video,
cerita, ataupun foto-foto. Segala macam gaya berhubungan badan kami
lakukan. Kami bercinta sangat sering, minimal seminggu tiga kali. Entah
mengapa, semenjak kami sering berseluncur di internet, gairah seksku
semakin menggebu. Sebagai tentara, suami sering tidak ada di rumah, tapi
kalau pas di rumah, kami langsung main kuda-kudaan, hehehe. Sudah lama
kami memutuskan untuk tidak punya anak lagi.
Tapi aku sangat takut untuk pasang
spiral. Dulu aku pernah mencoba suntik dan pil KB. Tapi sekarang kami
lebih sering pakai kondom, atau lebih seringnya suamiku keluar di
luar. Biasanya di mukaku, di payudara, atau bahkan di dalam mulutku.
Pokoknya kami sangat hati-hati agar
Sangga tidak punya adik lagi. Dan tenang saja, suamiku sangat jago
mengendalikan
muncratannya, jadi aku tidak khawatir muncrat di dalam
rahimku. Walaupun sudah dua kali melahirkan tubuhku termasuk sintal dan
seksi.
muncratannya, jadi aku tidak khawatir muncrat di dalam
rahimku. Walaupun sudah dua kali melahirkan tubuhku termasuk sintal dan
seksi.
Payudaraku masih cukup kencang karena
terawat. Tapi yang jelas, bodiku masih semlohai, karena aku masih punya
pinggang. Aku sadar, kalau tubuhku masih tetap membuat para pria menelan
air liurnya. Apalagi aku termasuk ibu-ibu yang suka pakai baju yang
agak ketat. Sudah kebiasaan sih dari remaja.
Suamiku termasuk seorang pejabat yang
baik. Dia ramah pada setiap orang. Di kampung dia termasuk aparat yang
disukai oleh para tetangga. Apalagi suamiku juga banyak bergaul dengan
anak-anak muda kampung. Kalau pas di rumah, suamiku sering mengajak
anak-anak muda untuk bermain dan bercakap-cakap di teras rumah.
Semenjak setahun yang lalu, di halaman
depan rumah kami di bangun semacam gazebo untuk nongkrong para tetangga.
Setelah membeli televisi baru, televisi lama kami, ditaruh di gazebo
itu, sehingga para tetangga betah nongkrong di situ. Yang jelas, banyak
bapak-bapak yang curi-curi pandang ke tubuhku kalau pas aku
bersih-bersih halaman atau ikutan nimbrung sebentar di tempat itu.
Maklumlah, kalau istilah kerennya, aku
ini termasuk MILF, hehehe. Selain bapak-bapak, ada juga pemuda dan
remaja yang sering bermain di rumah. Salah satunya karena gazebo itu
juga dipergunakan sebagai perpustakaan untuk warga.
Salah satu anak kampung yang paling
sering main ke rumah adalah Indun, yang masih SMP kelas 2. Dia anak
tetangga kami yang berjarak 3 rumah dari tempat kami.
Anaknya baik dan ringan tangan. Sama
suamiku dia sangat akrab, bahkan sering membantu suamiku kalau lagi
bersih-bersih rumah, atau membelikan kami sesuatu di warung. Sejak masih
anak-anak, Indun dekat dengan anak-anak kami, mereka sering main
karambol bareng di gazebo kami. Bahkan kadang-kadang Indun menginap di
situ, karena kalau malam, gazebo itu diberi penutup oleh suamiku,
sehingga tidak terasa dingin.
Pada suatu malam, aku dan suamiku sedang
bermesraan di kamar kami. Semenjak sering melihat adegan blow job di
internet, aku jadi kecanduan mengulum penis suamiku. Apalagi penis
suamiku adalah penis yang paling gagah sedunia bagiku. Tidak kalah
dengan penis-penis yang biasa kulihat di BF. Padahal dulu waktu masih
pengantin muda aku selalu menolak kalau diajak blowjob.
Entah kenapa sekarang di usia yang sudah
pertengahan kepala tiga ini aku justru tergila-gila mengulum batang
suamiku. Bahkan aku bisa orgasme hanya dengan mengulum batang besar itu.
Tiap nonton film blue pun mulutku serasa gatal.
Kalau pas tidak ada suamiku, aku selalu
membawa pisang kalau nonton film-film gituan. Biasalah, sambil nonton,
sambil makan pisang, hehehe. Malam itu pun aku dengan rakus menjilati
penis suamiku. Bagi mas Prasojo, mulutku adalah vagina keduanya. Dengan
berseloroh, dia pernah bilang kalau sebenarnya dia sama saja sudah
poligami, karena dia punya dua lubang yang sama-sama hotnya untuk
dimasuki.
Ucapan itu ada
benarnya, karena mulutku
sudah hampir menyerupai vagina, baik dalam mengulum maupun dalam
menyedot. Karena kami menghindari kehamilan, bahkan sebagian besar
sperma suamiku masuk ke dalam mulutku. Malam itu kami lupa kalau Indun
tidur di gazebo kami.
benarnya, karena mulutku
sudah hampir menyerupai vagina, baik dalam mengulum maupun dalam
menyedot. Karena kami menghindari kehamilan, bahkan sebagian besar
sperma suamiku masuk ke dalam mulutku. Malam itu kami lupa kalau Indun
tidur di gazebo kami.
Seperti biasa, aku teriak-teriak pada
waktu penis suamiku mengaduk-aduk vaginaku. Suamiku sangat kuat. Malam
itu aku sudah berkali-kali orgasme, sementara suamiku masih segar bugar
dan menggenjotku terus menerus. Tiba-tiba kami tersentak, ketika kami
mendengar suara berisik di jendela.
Segera suami mencabut batangnya dan
membuka jendela. Di luar nampak Indun dengan wajah kaget dan gemetaran
ketahuan mengintip kami. Suamiku nampak marah dan melongokkan badannya
keluar jendela. Indun yang kaget dan ketakutan meloncat ke belakang.
Saking kagetnya, kakinya terantuk selokan kecil di teras rumah. Indun
terjerembab dan terjungkal ke belakang. Suamiku tak jadi marah, tapi dia
kesal juga.
Walah, Ndun! Kamu itu ngapain? bentaknya.
Indun ketakutan setengah mati. Dia sangat menghormati kami. Suamiku yang tadinya kesal pun tak jadi memarahinya. Indun gelagepan. Wajahnya meringis menahan sakit, sepertinya pantatnya terantuk sesuatu di halaman.
Indun ketakutan setengah mati. Dia sangat menghormati kami. Suamiku yang tadinya kesal pun tak jadi memarahinya. Indun gelagepan. Wajahnya meringis menahan sakit, sepertinya pantatnya terantuk sesuatu di halaman.
Aku tadinya juga sangat malu diintip
anak ingusan itu. Tapi aku juga menyayangi Indun, bahkan seperti anakku
sendiri. Aku juga sadar, sebenarnya kami yang salah karena bercinta
dengan suara segaduh itu. Aku segera meraih dasterku dan ikut
menghampiri Indun.
Aduh, mas. Kasian dia, gak usah dimarahin. Kamu sakit Ndun? Aku mendekati Indun dan memegang tangannya.
Wajah Indun sangat memelas, antara takut, sakit, dan malu.
Sudah gak papa. Kamu sakit, Ndun? tanyaku. Sini coba kamu berdiri, bisa gak?
Karena gemeteran, Indun gagal mencoba berdiri, dia malah terjerembab lagi. Secara reflek, aku memegang punggungnya, sehingga kami berdua menjadi berpelukan.
Dadaku menyentuh lengannya, tentu saja
dia dapat merasakan lembutnya gundukan besar dadaku, karena aku hanya
memakai daster tipis yang sambungan, sementara di dalamnya aku tidak
memakai apa-apa.
Aduh sorri, Ndun pekikku.
Tiba-tiba suamiku tertawa. Agak kesal aku melirik suamiku, kenapa dia menertawai kami.
Aduh Mas ini. Ada anak jatuh kok malah ketawa
Hahaha.. lihat itu, Dik.
Si Indun ternyata udah gede, hahaha… kata
suamiku sambil menunjuk selangkangan Indun. Weitss… ternyata mungkin
tadi Indun mengintip kami sambil mengocok, karena di atas celananya yang
agak melorot, batang kecilnya mencuat ke atas.
Tiba-tiba suamiku tertawa. Agak kesal aku melirik suamiku, kenapa dia menertawai kami.
Aduh Mas ini. Ada anak jatuh kok malah ketawa
Hahaha.. lihat itu, Dik.
Si Indun ternyata udah gede, hahaha… kata
suamiku sambil menunjuk selangkangan Indun. Weitss… ternyata mungkin
tadi Indun mengintip kami sambil mengocok, karena di atas celananya yang
agak melorot, batang kecilnya mencuat ke atas.
Penis kecil itu terlihat sangat tegang
dan berwarna kemerahan. Malu juga aku melihat adegan itu, apalagi si
Indun. Dia tambah gelagepan.
Hussh Mas. Kasihan dia, udah malu tuh, kataku yang justru menambah malu si Indun.
Kamu suka yang lihat barusan, Ndun? Wah, hayooo… kamu nafsu ya lihat istriku? goda suamiku.
Suamiku malah ketawa-ketawa sambil berdiri di belakangku. Tentu saja wajah Indun tambah memerah, walaupun tetap saja penis kecilnya tegak berdiri. Kesal juga aku sama suamiku. Udah gak menolonng malah mentertawakan anak ingusan itu.
Huh, Mas mbok jangan godain dia, mbok tolongin nih, angkat dia
Lha dia khan sudah berdiri, ya tho Ndun? Wakakak kata suamiku.
Kamu suka yang lihat barusan, Ndun? Wah, hayooo… kamu nafsu ya lihat istriku? goda suamiku.
Suamiku malah ketawa-ketawa sambil berdiri di belakangku. Tentu saja wajah Indun tambah memerah, walaupun tetap saja penis kecilnya tegak berdiri. Kesal juga aku sama suamiku. Udah gak menolonng malah mentertawakan anak ingusan itu.
Huh, Mas mbok jangan godain dia, mbok tolongin nih, angkat dia
Lha dia khan sudah berdiri, ya tho Ndun? Wakakak kata suamiku.
Aku sungguh tidak tega lihat muka anak
itu. Merah padam karena malu. Aku lalu berdiri mengangkang di depan anak
itu, dan memegang dua tangannya untuk menariknya berdiri. Berat juga
badannya. Kutarik kuat-kuat, akhirnya dia terangkat.
Tapi baru setengah jalan, mungkin karena
dia masih gemetar dan aku juga kurang kuat, tiba-tiba justru aku yang
jatuh menimpanya. Ohhh… aku berusaha untuk menahan badanku agar tidak
menindih anak itu, tapi tanganku malah menekan dada Indun dan membuatnya
jatuh terlentang sekali lagi. Bahkan kali ini, aku ikut jatuh terduduk
di pangkuannya.
Dan…. ohhhh. Sleppp…. terasa sesuatu menggesek bibir vaginaku.
Waa…! aku tersentak dan sesaat bingung apa yang terjadi, begitu juga dengan Indun, wajahnya nampak sangat ketakutan. Aduuuhhh! teriakku.
Waa…! aku tersentak dan sesaat bingung apa yang terjadi, begitu juga dengan Indun, wajahnya nampak sangat ketakutan. Aduuuhhh! teriakku.
Sementara suamiku justru tertawa melihat
kami jatuh lagi. Tiba-tiba aku sadar benda apa yang bergesekan dengan
vaginaku, penis kecil si Indun! Penis itu menggesek wilayah sensitifku
disamping karena vaginaku masih basah
oleh persetubuhanku dengan
suamiku, juga karena aku tidak mengenakan apa-apa di balik daster
pendekku.
Ohhhhh…. apa yang terjadi? Pikirku.
Mungkin juga karena penis Indun yang masih imut dan lobang vaginaku yang biasa digagahi penis besar suami, jadinya sangat mudah diselipin batang kecil itu.
oleh persetubuhanku dengan
suamiku, juga karena aku tidak mengenakan apa-apa di balik daster
pendekku.Ohhhhh…. apa yang terjadi? Pikirku.
Mungkin juga karena penis Indun yang masih imut dan lobang vaginaku yang biasa digagahi penis besar suami, jadinya sangat mudah diselipin batang kecil itu.
Ohhh.. Masss??? desisku pada suamiku. Kali ini suamiku berhenti tertawa dan agak kaget.
Napa, say? tanyanya heran.
Kami bertiga sama-sama kaget, suamiku nampaknya juga menyadari apa yang terjadi. Dia mendekati kami, dan melihat bahwa kelamin kami saling bersentuhan. Beberapa saat kami bertiga terdiam bingung dengan apa yang terjadi. Aku merasakan penis Indun berdenyut-denyut.
Napa, say? tanyanya heran.
Kami bertiga sama-sama kaget, suamiku nampaknya juga menyadari apa yang terjadi. Dia mendekati kami, dan melihat bahwa kelamin kami saling bersentuhan. Beberapa saat kami bertiga terdiam bingung dengan apa yang terjadi. Aku merasakan penis Indun berdenyut-denyut.
Lobangku juga segera meresponnya,
mengingat rasa tanggung setelah persetubuhanku dengan suamiku yang
tertunda. Aku mencoba bangkit, tapi entah kenapa, kakiku jadi gemetar
dan kembali selangkanganku menekan tubuh si Indun. Tentu saja penisnya
melesak ke lobangku. Ohhh… aku merasakan sensasi yang biasa kutemui kala
sedang bersetubuh.
Ohhh… desisku. Indun
terpekik tertahan. Wajahnya memerah. Tapi aku
merasakan pantatnya sedikit dinaikkan merespon selangkanganku. Slepppp…
kembali penis itu menusuk dalam lobangku.
Yang mengherankan suamiku diam saja, entah karena dia kaget atau apa. Hanya aku lihat wajahnya ikut memerah dan sedikit membuka mulutnya, mungkin bingung juga untuk bereaksi dengan situasi aneh ini.
Ohhh… desisku. Indun
terpekik tertahan. Wajahnya memerah. Tapi aku
merasakan pantatnya sedikit dinaikkan merespon selangkanganku. Slepppp…
kembali penis itu menusuk dalam lobangku.Yang mengherankan suamiku diam saja, entah karena dia kaget atau apa. Hanya aku lihat wajahnya ikut memerah dan sedikit membuka mulutnya, mungkin bingung juga untuk bereaksi dengan situasi aneh ini.
Aku diam saja menahan napas sambil
menguatkan tanganku yang menahan tubuhku. Tanganku berada di sisi kanan
dan kiri si Indun. Sementara Indun dengan wajah merah padam menatap
mukaku dengan panik. Agak mangkel juga aku lihat mukanya, panik, takut,
tapi kok penisnya tetap tegang di dalam vaginaku. Dasar anak mesum,
pikirku. Tapi aneh juga, aku justru merasakan sensasi yang aneh dengan
adanya penis anak yang sudah kuanggap saudaraku sendiri itu dalam
vaginaku.
Agak kasihan juga lihat mukanya, dan
juga muncul rasa sayang. Pikirku, kasihan juga anak ini, dia sangat
bernafsu mengintip kami, dan juga apalagi yang dikawatirkan, karena
penisnya sudah terlanjur dalam vaginaku. Aku melirik suamiku sambil
tetap duduk di pangkuan si Indun. Suamiku tetap diam saja. Agak kesal
juga aku lihat respon mas Prasojo. Tiba-tiba pikiran nakal menyelimuti.
| Kenapa tidak kuteruskan saja persetubuhanku dengan Indun, toh
penisnya sudah menancap di vaginaku. Apalagi kalau lihat muka hornynya
yang sudah di ubun-ubun, kasihan lihat Indun kalau tidak diteruskan.
Dengan nekat aku kembali menekan pantatku ke depan. Vaginaku meremas
penis Indun di dalam. Merasakan remasan itu, Indun terpekik kaget.
Suamiku mendengus kaget juga.
Dik, aaa…paaaa yang kaulakukan? kata suamiku gagap.
Aku diam saja, hanya saja aku mulai menggoyang pantatku maju mundur.
Suamiku melongo sekarang. Wajahnya mendekat melihat mukaku setengah tak percaya. Indun tidak berani lihat suamiku. Dia menatap wajahku keheranan dan penuh nafsu.
Mas… aku teruskan saja ya, kasihan si Indun. Apalagi khan sudah terlanjur masuk, toh sama saja… bisikku berani ke suamiku.
Aku tak bisa lagi menduga perasaan suamiku. Kecelakaan ini benar-benar di luar perkiraan kami semua. Tapi suamiku memegang pundakku, yang kupikir mengijinkan kejadian ini. Entah apa yang ada di pikiranku, aku tiba-tiba sangat ingin menuntaskan nafsu si Indun.
Aku diam saja, hanya saja aku mulai menggoyang pantatku maju mundur.
Suamiku melongo sekarang. Wajahnya mendekat melihat mukaku setengah tak percaya. Indun tidak berani lihat suamiku. Dia menatap wajahku keheranan dan penuh nafsu.
Mas… aku teruskan saja ya, kasihan si Indun. Apalagi khan sudah terlanjur masuk, toh sama saja… bisikku berani ke suamiku.
Aku tak bisa lagi menduga perasaan suamiku. Kecelakaan ini benar-benar di luar perkiraan kami semua. Tapi suamiku memegang pundakku, yang kupikir mengijinkan kejadian ini. Entah apa yang ada di pikiranku, aku tiba-tiba sangat ingin menuntaskan nafsu si Indun.
Si Indun mengerang-erang sambil
terbaring di rerumputan halaman rumah kami. Kembali aku memaju-mundurkan
pantatku sambil meremas-remas penis kecil itu di dalam lobangku.
Remasanku selalu bikin suamiku tak tahan,
karena aku rajin ikut senam.
Apalagi ini si Indun, anak ingusan yang tidak berpengalaman.
karena aku rajin ikut senam.
Apalagi ini si Indun, anak ingusan yang tidak berpengalaman.
Tiba-tiba, karena sensasi yang aneh ini,
aku merasakan orgasme di dalam vaginaku. Jarang aku orgasme secepat
itu. Aku merintih dan mengerang sambil memegang erat lengan suamiku.
Banjir mengalir dalam lobangku. Otomatis remasan dalam vaginaku menguat,
dan penis kecil si Indun dijepit dengan luar biasa.
Indun meringis dan mengerang. Pantatnya melengkung naik, dann…. croottttttttt………..
Cairan panas itu membanjiri rahimku. Aku seperti hilang kendali, semua tiba-tiba gelap dan aku diserbu oleh badai kenikmatan…
Ohhhhhhhhhh…
Indun meringis dan mengerang. Pantatnya melengkung naik, dann…. croottttttttt………..
Cairan panas itu membanjiri rahimku. Aku seperti hilang kendali, semua tiba-tiba gelap dan aku diserbu oleh badai kenikmatan…
Ohhhhhhhhhh…
Aku lalu terkulai sambil menunduk
menahan tubuhku dengan kedua tanganku. Nafasku terengah-engah tidak
karuan. Sejenak aku diam tak tahu harus bagaimana. Aku dan suamiku
saling berpandangan.
Dik… Indun gak pakai kondom ..? suamiku terbata-bata.
Kami sama-sama kaget menyadari bahwa percintaan itu tanpa pengaman sama sekali, dan aku telah menerima banyak sekali sperma dalam rahimku, sperma si anak ingusan. Ohhh… tiba-tiba aku sadar akan resiko dari persetubuhan ini. Aku dalam masa subur, dan sangat bisa jadi aku bakalan mengandung anak dari Indun, bocah SMP yang masih ingusan.
Dik… Indun gak pakai kondom ..? suamiku terbata-bata.
Kami sama-sama kaget menyadari bahwa percintaan itu tanpa pengaman sama sekali, dan aku telah menerima banyak sekali sperma dalam rahimku, sperma si anak ingusan. Ohhh… tiba-tiba aku sadar akan resiko dari persetubuhan ini. Aku dalam masa subur, dan sangat bisa jadi aku bakalan mengandung anak dari Indun, bocah SMP yang masih ingusan.
Pelan-pelan aku berdiri dan mencabut
penis Indun dari vaginaku. Penis itu masih setengah berdiri, dan
berkilat basah oleh cairan kami berdua. Aku dan suamiku mengehela nafas.
Cepat cepat aku memperbaiki dasterku. Dengan gugup, Indun juga
menaikkan celananya dan duduk ketakutan di rerumputan.
Maa.. maaf, Bu.. akhirnya keluar juga suaranya.
Aku menatap Indun dengan wajah seramah mungkin. Suamiku yang akhirnya pegang peranan.
Sudahlah, Ndun. Sana kamu pulang, mandi dan cuci-cuci! perintahnya tegas.
Iya, om. Ma.. maaf ya Om kata Indun sambil menunduk. Segera dia meluncur pergi lewat halaman samping.
Masuk! suamiku melihat ke arahku
dengan suara agak keras.
Gemetar juga aku mendengar suamiku yang biasanya halus dan mesra padaku. Aduuh, apa yang akan terjadi?bKami berdua masuk ke rumah, aku tercekat tidak bisa mengatakan apa-apa. Tiba-tiba pikiran-pikiran buruk menderaku, jangan-jangan suamiku tak memaafkanku.
Maa.. maaf, Bu.. akhirnya keluar juga suaranya.
Aku menatap Indun dengan wajah seramah mungkin. Suamiku yang akhirnya pegang peranan.
Sudahlah, Ndun. Sana kamu pulang, mandi dan cuci-cuci! perintahnya tegas.
Iya, om. Ma.. maaf ya Om kata Indun sambil menunduk. Segera dia meluncur pergi lewat halaman samping.
Masuk! suamiku melihat ke arahku
dengan suara agak keras.Gemetar juga aku mendengar suamiku yang biasanya halus dan mesra padaku. Aduuh, apa yang akan terjadi?bKami berdua masuk ke rumah, aku tercekat tidak bisa mengatakan apa-apa. Tiba-tiba pikiran-pikiran buruk menderaku, jangan-jangan suamiku tak memaafkanku.
Ohhh apa yang bisa kulakukan. Di dalam
kamar tangisanku pecah. Aku tak berani menatap suamiku. Selama ini aku
adalah istri yang setia dan bahagia bersama suamiku, tapi malam ini…
tiba-tiba aku merasa sangat kotor dan hina. Agak lama suamiku
membiarkanku menangis. Pada akhirnya dia mengelus pundakku.
Sudahlah bu, ini khan kecelakaan.
Hatiku sangat lega. Aku menatap suamiku, dan mencium bibirnya. Tiba-tiba aku menjadi sangat takut kehilangan dia. Kami berpelukan lama sekali.
Tapi mas… kalau aku…… hamil gimana? tanyaku memberanikan diri.
Ah.. mana mungkin, dia khan masih ingusan. Dan kalau pun Dik Idah hamil khan gak papa, si Sangga juga sudah siap kalau punya adik lagi, sanggah suamiku.
Sudahlah bu, ini khan kecelakaan.
Hatiku sangat lega. Aku menatap suamiku, dan mencium bibirnya. Tiba-tiba aku menjadi sangat takut kehilangan dia. Kami berpelukan lama sekali.
Tapi mas… kalau aku…… hamil gimana? tanyaku memberanikan diri.
Ah.. mana mungkin, dia khan masih ingusan. Dan kalau pun Dik Idah hamil khan gak papa, si Sangga juga sudah siap kalau punya adik lagi, sanggah suamiku.
| Jawaban itu sedikit menenangkan hatiku. Akhirnya kami bercinta lagi.
Kurasakan suamiku begitu mengebu-gebu mengerjaiku. Apa yang ada di
pikirannya, aku tak tahu, padahal dia barusan saja melihat istrinya
disetubuhi anak muda. Sampai-sampai aku kelelehan melayani suamiku. Pada
orgasme yang ketiga aku menyerah.
Mas, keluarin di mulutku saja ya… aku tak kuat lagi bisikku pada orgasme ketigaku ketika kami dalam posisi doggystye.
Suamiku mengeluarkan penisnya dan menyorongkannya ke mulutku. Sambil terbaring aku menyedot-nyedot penis besar itu. Sekitar setengah jam kemudian, mulutku penuh dengan sperma suamiku. Dengan penuh kasih sayang, aku menelan semua cairan kental itu.
Mas, keluarin di mulutku saja ya… aku tak kuat lagi bisikku pada orgasme ketigaku ketika kami dalam posisi doggystye.
Suamiku mengeluarkan penisnya dan menyorongkannya ke mulutku. Sambil terbaring aku menyedot-nyedot penis besar itu. Sekitar setengah jam kemudian, mulutku penuh dengan sperma suamiku. Dengan penuh kasih sayang, aku menelan semua cairan kental itu.
Hari-hari selanjutnya berlalu dengan
biasa. Aku dan suamiku tetap dengan kemesraan yang sama. Kami
seolah-olah melupakan kejadian malam itu. Hanya saja, Indun belum berani
main ke rumah.















Tidak ada komentar:
Posting Komentar