Buruan daftarkan diri anda dan menangkan jacpot jutaan rupiah..
situs judi yang terpercaya dalam keuangan berapapun
anda menang dan tidak ada batas penarikan dan deposit setiap
hari 24 jam
Rasakan sensasi promo yang tiada duanya di
www.pkr224.com
Untuk Daftar Silakan Klik Link Di Bawah !
situs judi yang terpercaya dalam keuangan berapapun
anda menang dan tidak ada batas penarikan dan deposit setiap
hari 24 jam
Rasakan sensasi promo yang tiada duanya di
www.pkr224.com
Untuk Daftar Silakan Klik Link Di Bawah !
Raih Semua Promo-promo menarik poker224.com
- Bonus Rollingan/Cashback 0,5% ( Setiap Senin ) -
- Bonus Referral 20% ( SEUMUR HIDUP ) -
HUBUNGI KAMI :
LIVECHAT : www.pkr224.com
YM : poker_224@yahoo.com
SKYPE : poker.224
BBM : 563B7468whatsapp : 085361245308
Salam kami WWW.pkr224.com
- Bonus Rollingan/Cashback 0,5% ( Setiap Senin ) -
- Bonus Referral 20% ( SEUMUR HIDUP ) -
HUBUNGI KAMI :
LIVECHAT : www.pkr224.com
YM : poker_224@yahoo.com
SKYPE : poker.224
BBM : 563B7468whatsapp : 085361245308
Salam kami WWW.pkr224.com

Karena Kepuasan Anda Prioritas Bagi Kami
AGEN POKER TERBAIK DAN TERPERCAYA DALAM
PROSES KEUANGAN
Untuk Daftar Silakan Klik Link Di Bawah !
Kulit Murti
Murti yang saat ini sedang menempuh kuliah di salah satu universitas swasta di kota S tinggal bersama ci Debora yang menyewakan salah satu dari 2 kamarnya yang kosong kepada Murti. Penampilan ci Debora berbeda sekali
Rupanya,
Demikian pula
Apa yang
Pucuk dicinta ulam tiba, seminggu yang lalu — adik ci Debora yang laki-laki tiba dan hendak menginap untuk satu bulan karena suatu urusan. ‘Sekali tepuk 2 lalat’ — inilah yang ada dalam pikiran ci Debora melihat adiknya sendiri dan Murti.
Suatu sore sejak 3 hari kedatangan adiknya — Ci Debora sudah mempersiapkan rencana yang baik: pertama adiknya,
Melihat
“Masuk saja, cici cuman sebentar koq.” Diam-2, adiknya memperhatikan cicinya dan berpikir:
“Cantik juga, walaupun sudah kepala tiga. Badannya juga begitu padat dan seksi..” Ci Debora yang mengerti bahwa dirinya sedang diperhatikan adiknya sendiri hanya tersenyum simpul — tiba-tiba ia berdiri, mendekati adiknya dan menggandeng tangannya. Adiknya kaget sekali namun ia tidak berkata apa2. Ci Debora membimbing adiknya menuju sebuah pintu sambil sesekali melirik ke belakang dan tersenyum simpul ke arah adiknya.
Ci Debora membuka pintu kamar tersebut dan menyalakan lampunya. Ternyata, apa yang dilihat adiknya adalah sesuatu yang menakjubkan namun juga membuatnya sedikit shock: sebuah kamar yang cukup luas — dengan seluruh dinding ditutupi bahan kedap suara berwarna pink. Ranjang yang terletak di tengah ruangan, sebuah TV lengkap dengan stereo-setnya yang mewah: juga 3 teve hitam-putih kecil yang menampakkan situasi di ruang tamu, kamar Murti dan kamarnya sendiri.
Namun yang membuatnya begitu kaget dan sedikit takut adalah koleksi VCD, video dan DVD dewasa yang berserakan di lantai. Berbagai alat bantu seksual, dan sebuah manekin lengkap dengan kemaluan
“Sudahlah
Adiknya masih ragu. Ci Debora tahu ini — dan tanpa membuang banyak waktu, ia segera maju ke depan membuka celana pendek adiknya dengan mudah (entah bagaimana, adiknya tidak mampu melawan cicinya sendiri). Mulailah ia mengoral batang kemaluan adiknya itu. Ci Debora mempercepat gerakan mengocoknya dengan tangan kanan, dia menengadah dan menatap wajah adiknya dengan tatapan tajam penuh birahi — ia mendesis sambil berkata:“Sss.. awas kalau kamu berani keluar sebelum aku. Lebih baik kamu cari kos lain saja, meskipun kamu adikku!”
Sesudah
Ci Debora menghentikan oralnya, dan tahulah ia bahwa adiknya agak kecewa.
“Tunggu sebentar —
“Kyaa..!!” Murti menjerit, namun percuma karena ruangan tersebut kedap suara. Adik Ci Debora hanya diam saja karena shock melihat keganasan cicinya — apalagi dengan sesama jenis! Ci Debora telah sampai pada branya. Dengan kasar, ia merenggut bra Murti dan melemparkannya ke lantai. Ci Debora melihat sepasang toket Murti yang kecil.
“Seharusnya
“Pahamu putih dan mulus juga yah..” Terakhir, Ci Debora menurunkan celana dalam Murti. Murti tak dapat berbuat apa-apa terhadap Ci Debora yang terus menggerayangi tubuhnya dan sesekali menciuminya. Tiba-tiba Ci Debora berdiri dan berjalan menuju lemari. Diambilnya sebuah kemaluan palsu (dildo) dan semacam lotion. Ia mengolesi dildonya dengan lotion tersebut dan memberikannya kepada adiknya,
“Kamu
“Jangan ci.. saya takut.” Murti yang sudah lemas berkata dengan penuh kekuatiran, melihat ci Debora mengenakan kemaluan palsu (dildo) bergerigi dengan ukuran yang cukup mengerikan seperti mengenakan celana dalam. Ci Debora dengan cepat bergerak ke arah Murti.
“Diam. Mana lotionnya.” Sesudah mendapatkan lotion, ia mulai mengolesi dinding kemaluan Murti sambil berkata: “Kamu jangan takut, percaya sama cici saja. Sesudah itu, ia membalikkan tubuh Murti dan melumasi lubang pantatnya pula.
“Ayo — kamu
Rasa sakit bercampur nikmat membuat Murti membelalakkan matanya, ia membuka mulutnya dan merintih
“Aaa..” Ci Debora membaringkan Murti dari posisi terduduk menjadi terlentang dengan adiknya di bawahnya (dan batang kemaluannya yang sudah menancap ke dalam lubang dubur Murti).
“Murti, aku yakin kamu akan menyukai ini dan pasti ketagihan sesudah ini.” Ci Debora memasukkan dildo-nya ke dalam lubang kemaluan Murti.
Murti yang
“Aaa.. aa..” Murti masih mengenakan kaca mata minusnya ketika permainan ini dimulai.
Ci Debora tertawa melihat Murti berusaha bertahan:
“Jangan ditahan dan jangan dilawan Murti — nikmati saja, sayang!!” Perlahan-lahan rintihan Murti mulai berubah menjadi jeritan nikmat penuh birahi..
“Ah.. ah.. yess.. mmhh.. MM.. AAHH..” Kenikmatan disetubuhi di kedua lubangnya secara bersamaan membuat Murti kehilangan kendali. Murti yang sopan dan alim perlahan larut.. perlahan berubah menjadi Murti yang liar, sifat liar yang seakan ditularkan dari ci Debora — meracuni pikiran Murti yang semula begitu bersih dan polos.
“Yah.. teruskan!! LEBIH CEPAT LAGI CI DEBORA..!! AA.. AA.. MMHH.. MM..”
Murti menggenggam
“AGH.. Enak sekali.. Ci.. aa.. aku.. belum pernah.. uuh.. senikmat ini..” Adik Ci Debora menganal lubang pantat Murti sambil meremas-remas kedua toket Murti dari belakang, walaupun ukuran toket Murti relatif kecil — namun ini tidak mengurangi rangsangan demi rangsangan yg diterimanya.
“Auuh.. ah..” mulut Murti menganga dan mengeluarkan teriakan-teriakan yg semakin tidak jelas. Tubuhnya pun mulai menegang; tahulah Ci Debora bahwa “anak didiknya” saat ini hampir mencapai puncak kenikmatan.
Ci Debora mengurangi kecepatan bermainnya dan mengubah gerakan maju-mundurnya menjadi gerakan mengaduk
Adik Ci Debora juga mencabut dildonya dari lubang dubur Murti dan merebahkan Murti yang sudah lemas di ranjang. Murti masih memejamkan kedua matanya — Ci Debora melepas kacamata Murti yang masih dikenakannya dan meletakkannya di meja yg terletak di tepi ranjang.
“Lain kali, kalau mau main — jangan lupa lepas dulu kacamatanya..” Ci Debora tersenyum dan mencium Murti, kemudian ia melepaskan dildonya dan menggelatakannya begitu saja di lantai. Ia memandang adiknya dan berkata:
“Kamu jangan bengong saja, kamu masih punya tugas satu lagi.” Sesudah berkata demikian, ia duduk di lantai — melebarkan kedua pahanya: mengarahkan lubang kemaluannya yang sudah basah ke arah adiknya.
Kemudian ia menunjuk ke arah kemaluannya:
“Ayo: gunakan lidahmu.”
“Errghh.. aaghh.. niikkmmaatt sekkaallii.. ss..!!” Ci Debora benar-benar menikmati setiap hisapan dan jilatan yang diberikan adiknya ke liang kewanitaannya, namun di tengah ambang sadar dan tidak — Debora ingat bahwa ia tidak ingin mencapai orgasme dengan cara seperti ini.
“Aah.. tunggu say — bee.. berhentii duluu.. mmh.. sekarang giliran.. cici ngerjain punya kamuu..”
Adik Ci Debora menurut dan berhenti. Ci Debora bergerak kemudian berjongkok membelakangi adiknya, sekarang ia dalam keadaan berjongkok menghadap pantat adiknya. Adiknya agak kebingungan dengan tingkah laku cicinya. Namun Debora cuek saja: tangan kirinya ia lewatkan di antara kaki adiknya, dan dengan tangannya itu ia mencengkeram buah pelir adiknya dengan halus dan mulai memijat- mijatnya.
“Tenang saja, sayang —
Kemudian ia melingkarkan tangan kanannya dari pinggang sebelah kanan adiknya — langsung menuju ke arah kemaluan adiknya. Dan mulailah ia mengocok-ngocoknya batang kemaluan adiknya itu dengan tangan kanannya yang sudah dilumasi air ludahnya sendiri.
“Aaaghh.. duh, enak sekali ci..” Ci Debora meneruskan gerakan tangannya sampai ia merasa batang kemaluan adiknya sudah cukup keras. Sesudah itu, ia membalikan badannya dan mengambil posisi nungging di lantai. Tahulah adik ci Debora apa yang diinginkan cicinya ini. Ia juga mengatur posisi di belakang cicinya:
“Awas ya — pokoknya aku nggak mau anal. Maenin lubangku yang biasa aja.” Adiknya menurut, dan permainan dimulai.
Adik ci Debora memulai gerakannya dengan perlahan,
“Mmm.. masih kurang, lagi dong!” Gerakan dipercepat, Ci Debora memejamkan matanya keenakan. Ia menambah kenikmatan dengan menggesek-gesek klit-nya sendiri, dengan sebelumnya membasahi jari-jarinya dengan cara mengulumnya sendiri.
“Uuuaah.. enaakk sayaang.. Mmmh..”
Dengan demikian, ia dengan leluasa dapat memasukkan batang kemaluannya ke lubang ci Debora. Ia mulai bergerak maju mundur,
“Aaahh.. mm..” Untuk sekedar menambah kenikmatan, ia mengarahkan tangan kanannya ke arah pantatnya sendiri dan menggerakan jari tengahnya keluar- masuk lubang pantatnya.
“Kyyaahh.. uuhh..” Tubuh ci Debora terus bergoyang-goyang — toketnya pun bergerak naik turun tak beraturan mengkuti irama tubuhnya. Adik ci Debora yg sedari tadi bergitu terangsang dengan gerakan toket cicinya sendiri itu sudah tak tahan lagi, ia memajukan tangan kanannya guna meremas toket kanan cicinya itu.
“Oh — susumu begitu empuk ci..” Ci Debora hanya tersenyum, ia mencabut tangannya dari lubang pantatnya — dan ikut meremas toketnya bersama-sama dengan tangan adiknya itu. Permainan terus berlangsung, Ci Debora merasakan tubuhnya sendiri mulai menegang — ia sendiri sudah tidak mampu berpikir jernih lagi.
Hanya kenikmatan yang dirasakan sekujur tubuhnya sekarang.
“AAHH.. AAKKUU.. MMH..” Keluarlah Ci Debora, mencapai orgasme yang diidam-idamkannya dalam posisi menyamping. Tercapailah segala keinginannya selama ini.
Demikian pula adik ci Debora, ia segera berdiri karena sudah tidak tahan lagi, dan ci Debora mengetahui hal ini — karena ia sudah berhasil meraih orgasme, maka ia berniat membantu adiknya untuk mengeluarkan seluruh peju yang
“Nah, sekarang cici ingin merasakan nikmatnya cairan kejantananmu. Ayo sayang.. keluarkan — jangan ragu.. ayo!” Ci Debora memainkan batang kemaluan adiknya naik turun dengan gerakan memutar sambil sesekali menjilat pangkal kemaluan adiknya.
“Aih.. masih belum keluar juga.. sebentar..” Sambil mengocok batang kemaluan adiknya dengan menggunakan tangan kanannya, ci Debora memijat buah pelir adiknya.
“Ah.. ci.. aku mau keluar nih..!!” Ci Debora langsung mengarahkan ujung batang kemaluan adiknya ke arah mulutnya, menyambut cairan peju yang segera muncrat masuk ke dalam mulutnya.
Murti yang sedari tadi tergeletak lemas berusaha bangkit dan merangkak menuju ci Debora dan adiknya.
“Ci Debora.. saya juga mau..”, kata Murti sambil menunjuk ke arah mulutnya sendiri. Tetes peju terakhir sudah habis meluncur turun ke dalam mulut ci Debora yang seksi. Ci Debora menelan sedikit peju adiknya dan menahan sisanya di dalam mulutnya. Ia tersenyum dengan mulut belepotan peju adiknya, membelai Murti, kemudian membaringkannya, dan meletakkan kepala Murti di pangkuannya. Murti yang sudah lemas hanya menurut seperti anak kecil. Dengan gerakan yang lembut, ci Debora menyentuh bibir Murti dan menggerakannya ke bawah dengan jari telunjuknya.
Murti mengerti apa yang dimaksud ci Debora, ia membuka mulutnya. Bibirnya bergetar. Ci Debora kembali tersenyum — ia mengarahkan mulutnya tepat di atas bibir Murti yang sudah merekah, kemudian membuka dan memuntahkan peju lengket yang sudah bercampur dengan air liur ci Debora, turun memasuki mulut Murti.
Peju dalam mulut ci Debora sudah habis dipindahkan ke dalam mulut Murti. Ci Debora tersenyum lebar dengan sedikit sisa peju bercampur liur pekat yang menetes dari ujung bibirnya.
Kembali, dengan gerakan lembut — ci Debora memberi isyara
“Nah, aku tidak pernah pelit kepada gadis manis seperti kamu. Ambillah bagianmu dan nikmatilah.” Murti menelan peju yang sudah diberikan ci Debora kepadanya.
“Terima kasih ci..” Kemudian ia
Sejak saat itu, kehidupan ci Debora dan Murti selalui dipenuhi dengan petualangan: hampir setiap bulan Murti ‘menjebak’ teman kuliahnya — entah itu pria atau wanita. Mungkin dalam kesempatan lain, Murti dapat membagi kisah petualangannya disini.



















Tidak ada komentar:
Posting Komentar